Lautan dunia kini menghadapi tekanan yang semakin meningkat akibat aktivitas manusia, dengan laju kenaikan permukaan laut yang berlipat ganda dalam satu dekade terakhir. Laporan terbaru yang dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti urgensi kolaborasi global untuk mengatasi dampak polusi dan perubahan iklim. Mendalo.ID hadir untuk mengupas tuntas temuan penting ini dan implikasinya bagi masa depan bumi kita.
Ancaman Nyata: Percepatan Kenaikan Permukaan Laut
Penilaian Ketiga Samudra Dunia (WOA III), sebuah laporan komprehensif yang dirilis PBB, mengungkapkan fakta yang mengkhawatirkan: permukaan laut terus naik dengan laju yang semakin cepat. Sebelumnya, kenaikan tercatat sekitar 2 milimeter per tahun sebelum tahun 2015. Namun, data terbaru menunjukkan lonjakan signifikan menjadi 4,3 milimeter per tahun pada tahun 2023. Angka ini tidak hanya sekadar statistik, melainkan indikator nyata dari krisis iklim yang mendesak. WOA III juga mencatat bahwa sekitar 16 persen dari total peningkatan kandungan panas laut sejak 1955 telah terjadi hanya dalam kurun waktu sejak 2018, menunjukkan percepatan yang mengkhawatirkan dalam pemanasan samudra.
Tekanan Ganda pada Ekosistem Laut
Laporan WOA III menggarisbawahi bahwa tekanan yang dialami samudra bersifat kumulatif, diakibatkan oleh berbagai aktivitas manusia.
Polusi dan Eksploitasi Berlebihan
Industri penangkapan ikan berskala besar yang tidak berkelanjutan serta polusi dari berbagai sumber, termasuk limbah plastik dan kimia, telah membebani ekosistem laut secara masif. Tekanan ini berujung pada kerusakan habitat dan ketidakseimbangan ekosistem.
Dampak pada Keanekaragaman Hayati
Aktivitas manusia secara langsung menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati secara luas. Spesies laut terancam punah, terumbu karang rusak, dan rantai makanan di lautan terganggu, menimbulkan “tekanan berat” pada sistem samudra global. WOA III adalah satu-satunya penilaian terintegrasi global yang mencakup aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial, yang merupakan upaya kolektif lebih dari 650 ahli dari puluhan negara yang menilai keadaan samudra dari tahun 2021 hingga 2025.
Seruan Mendesak PBB: Bangun Hubungan Baru dengan Laut
Menanggapi temuan ini, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan tindakan segera. Beliau menegaskan, “Kita tidak bisa terus memperlakukan laut sebagai sumber daya yang tak terbatas.” Guterres menekankan perlunya kolaborasi global yang mendesak untuk melindungi ekosistem laut. Dunia harus membangun hubungan baru dengan laut yang didasarkan pada sains, dibingkai oleh hukum internasional, dan dibangun di atas dasar tanggung jawab bersama di seluruh negara, sektor, dan generasi. Sebagai bagian dari komitmen kami di Mendalo.ID, kami akan terus menyajikan informasi kritis mengenai isu-isu lingkungan untuk meningkatkan kesadaran publik dan mendorong tindakan nyata demi kelestarian lautan kita.




